Mengenai Saya

Foto saya
jakarta, DKI Jakarta, Indonesia

Rabu, 07 September 2022

Hadits yang perlu dihafal

1.  Hadits Tentang Akhlaq Nabi

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

 (HR Muslim"Akhlak Nabi SAW adalah Alquran" : Artinya 

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad)


2. Hadits Tentang Akhlaq seorang mu'min

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)


3. Hadits tentang Kebersihan 

Mengutip dari dari Kitab Ihya' Ulumiddin karya Imam Al Ghazali, Nabi SAW menjadikan kebersihan separuh dari keimanan. Beliau bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

Artinya: "Kesucian itu adalah setengah dari iman." (HR Muslim).

4. Hadits Tentang Malu 

اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ

Artinya : Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hiban, dan Al Hakim)

5. Hadits tentang berbakti kepada kedua orangtua

رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ وَسُخْطُ اَللَّهِ فِي سُخْطِ اَلْوَالِدَيْنِ

Artinya : ‘Ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya' (HR At-Tirmidzi)

(Sumber : Dari berbagai sumber)

Krisis Moral yang Dialami Anak Muda di Era Milenial

Moral berasal dari kata latin mores yang berarti adat kebiasaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata moral berarti “akhlak atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin dalam hidup”. Moral adalah suatu ajaran wejangan-wejangan, patokan-patokan, kumpulan peraturan baik lisan maupun tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik. Sedangkan moralitas merupakan nilai-nilai yang senantiasa dijadikan pegangan maupun pedoman bagi seseorang terkait bagaimana cara memperlakukan orang lain atau hal-hal lain secara baik untuk bertindak sebagaimana mestinya.

 

Masalah perilaku di tengah perkembangan digital yang dengan mudah diakses generasi milenial ibarat dua sisi mata pisau yang jika dimanfaatkan akan sangat berguna untuk mendongkrak kemampuan bagi si penggunanya yang mana media saat ini menyajikan dan memberikan banyak informasi yang dibutuhkan oleh kebanyakan anak muda begitupun sebaliknya jika disalahgunakan akan merugikan baik si penggunanya maupun orang lain. Tanpa kita sadari krisis moral tengah melanda anak muda di era milenial. Hal ini membuat kita prihatin dengan kondisi yang menimpa generasi penerus bangsa jika tetap dibiarkan akan seperti apa Indonesia kedepannya. Krisis moral saat ini lebih banyak terjadi di kalangan remaja. Karena pada fase remaja ini, anak masih mengalami ketidakpastian dan sedang mencari jati diri yang sesungguhnya.

 

Berita yang viral saat ini tersebarnya  video prank anak muda menimpa salah satu youtuber yang mana seharusnya memberikan contoh yang baik kepada masyarakat justru memperlihatkan perilaku yang tidak beretika dengan berpura-pura memberikan bingkisan berisi sampah dan batu yang ia bagikan ke salah satunya ke transgender di tengah pandemik  kemudian ia membuat video seolah-olah permintaan maaf yang  ternyata hanya prank. Tidak lama setelah beredarnya video prank si youtuber tersebut aksi prank juga dilakukan oleh empat orang remaja di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan yang mendatangi rumah sakit dan mengaku sebagai pasien corona, aksi prank terhadap petugas rumah sakit ini sangatlah tidak terpuji terlebih lagi beban dan tekanan kerja petugas kesehatan saat ini sangat tinggi di tengah wabah corona. perilaku-perilaku tidak terpuji yang dilakukan oleh remaja tersebut karena krisis moral yang berujung pada pelanggaran hukum. Sebegitu bobroknyakah etika anak muda di era milenial yang sepertinya tidak memiliki hati nurani di tengah musibah yang menimpa negeri ini untuk melakukan hal seperti itu demi eksistensi semata.

 

Eksistensi manusia merupakan sebuah proses yang dinamis suatu “menjadi” atau “mengada”. Eksistensi bisa juga didefinisikan dengan keberadaan yang ingin diakui oleh orang lain, eksistensi juga tidak bersifat kaku melainkan mengalami perkembangan atau sebaliknya kemunduran, tergantung pada individu dalam mengaktualisasikan potensi-potensinya. Eksistensi biasanya dikaitkan dengan popularitas yang terkadang menjadi hal yang ingin digapai oleh remaja untuk mengaktualisasikan diri di kalangannya serta meningkatkan penghargaan diri namun cara yang digunakan oleh sebagian remaja terkadang melanggar norma-norma yang ada. Entah karena hausnya akan popularitas sehingga melakukan hal-hal yang anti mainstream sehingga lebih cepat untuk popular daripada eksis karena prestasi dengan melalui proses yang panjang.

 

Krisis moral yang dialami khususnya remaja merupakan masalah yang telah meluas dan harus segera diselesaikan, karena dapat mengancam masa depan kehidupan mereka sendiri serta masa depan bangsa dan juga mempengaruhi anak-anak kecil yang sekarang lebih suka meniru para remaja. Krisis moral adalah permasalahan yang cukup kompleks yang harus sesegera mungkin di tangani dengan penanganan yang tepat.


 

Beberapa faktor penyebab krisis moral di kalangan anak muda yaitu:

 

1.     Faktor keluarga

kenakalan remaja banyak dilatarbelakangi oleh keluarga yang broken home atau keluarga tidak harmonis. Dari keluarga yang tidak harmonis ini dapat memberikan dampak mental dan psikologis terhadap anak.

2.     Krisis Identitas

Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Terjadinya krisis moral karena remaja gagal mencapai integrasi kedua.

3.     Kontrol Diri yang Lemah

Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku yang tidak terpuji. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

4.     Sikap Mental yang Tidak Sehat

Perilaku yang menyimpang dapat pula disebabkan karena sikap mental yang tidak sehat. Sikap tersebut ditunjukkan dengan tidak merasa bersalah atau menyesal atas perbuatannya, bahkan merasa senang.

5.     Pelampiasan Rasa Kecewa

Seseorang yang mengalami kekecewaan apabila tidak dapat mengalihkannya ke hal positif, maka ia akan berusaha mencari pelarian untuk memuaskan rasa kecewanya.

6.     Pengaruh lingkungan dan Media Massa

Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang dapat disebabkan karena terpengaruh oleh lingkungan kerjanya atau teman sepermainannya. Begitu juga peran media massa, sangat berpengaruh terhadap penyimpangan perilaku.

7.     Dorongan Kebutuhan Ekonomi

Perilaku menyimpang yang terjadi karena adanya dorongan kebutuhan ekonomi.

 

Adapun solusi yang dapat kita terapkan dalam mengatasi krisis moral di kalangan anak muda khususnya peserta didik yaitu:

 

1.     Menanamkan Pendidikan Karakter Sejak Dini

Anak adalah generasi penerus bangsa yang membutuhkan pendidikan serta pemenuhan hak-hak nya untuk dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya karena sejatinya karakter yang baik dapat dibentuk sejak dini. Dalam menerapkan pendidikan karakter ini sebaiknya tidak hanya mengandalkan pendidikan formal saja, melainkan pendidikan karakter ini juga dapat ditanamkan dalam lingkungan keluarga yang merupakan madrasah pertama atau agen utama dalam membentuk karakater yang baik pada anak.

 

2.     Memilih Teman Bergaul di Lingkungan yang Tepat.

Pergaulan sangat memengaruhi karakter dari dalam diri seseorang, apalagi pada tahap remaja. Mereka sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain. Oleh karena itu orang tua sebagai agen utama sebaiknya lebih memerhatikan serta memantau lagi bagaimana pergaulan anak-anak mereka diluar dan dengan siapa saja mereka berada di  luar lingkup rumah.

 

3.     Memanfaatkan Perkembangan IPTEK dengan baik.

Mampu memanfaatkan perkembangan IPTEK dengan baik karena dengan teknologi, kini kita dapat mengakses dengan mudah hal-hal apapun yang kita inginkan, terlebih lagi semakin maraknya video-video porno di kalangan remaja yang dapat merusak moral.

 

4.     Meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan hal yang sangat penting sebagai solusi karena sesuatu apapun yang dilandasi dengan iman dan taqwa tidak akan mengarah ke hal-hal yang negatif. Dengan kita mengingat dan menyadari bahwa ada Tuhan yang selalu mengawasi apapun yang kita lakukan, maka dengan itu kita pun akan lebih sadar bahwa apapun yang kita lakukan di dunia tentu ada konsekuensi serta pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

 

Oleh : Salmiah


Sumber : https://puspensos.kemensos.go.id/krisis-moral-yang-dialami-anak-muda-di-era-milenial

Perlukah Hadits dihafal?

Selain berusaha mempelajari Al-Qur’an dan hadis dengan bimbingan para ulama, seorang penuntut ilmu juga hendaknya bersemangat untuk menghafalkan Al-Qur’an dan hadis. Karena pondasi dari ilmu adalah Al-Qur’an dan hadis.

Menghafalkan Al-Qur’an

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan,

طلب العلم درجات ورتب لا ينبغي تعديها، ومن تعداها جملة فقد تعدى سبيل السلف رحمهم الله، فأول العلم حفظ كتاب الله عز وجل وتفهمه

“Menuntut ilmu itu ada tahapan dan tingkatan yang harus dilalui. Barangsiapa yang melaluinya, maka dia telah menempuh jalan salaf rahimahumullah. Dan ilmu yang paling pertama adalah menghafal kitabullah ‘azza wa jalla (Al Qur’an) dan memahaminya.” (Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, 2: 1129)

Menghafalkan Al-Qur’an juga kita lakukan dalam rangka upaya agar menjadi shahibul qur’an (pecinta Al-Qur’an). Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

اقْرَؤُوا القُرْآنَ فإنَّه يَأْتي يَومَ القِيامَةِ شَفِيعًا لأَصْحابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena dia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi shahibul Qur’an.” (HR. Muslim no. 804)

Siapa itu shahibul qur’an? Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, makna dari shahibul Qur’an adalah orang yang menghafalkannya di hati. Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam,

يؤمُّ القومَ أقرؤُهم لِكتابِ اللَّهِ

“Hendaknya yang mengimami sebuah kaum adalah yang aqra’ terhadap Kitabullah” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu)

Makna aqra’ adalah yang paling hafal Al-Qur’an. Sehingga derajat surga yang didapatkan seseorang itu tergantung pada banyak hafalan Al-Qur’annya di dunia, bukan pada banyak bacaannya, sebagaimana disangka oleh sebagian orang. Maka di sini kita ketahui keutamaan yang besar bagi pada penghafal Al-Qur’an. Namun dengan syarat, dia menghafalkan Al-Qur’an untuk mengharap wajah Allah tabaaraka wa ta’ala, bukan untuk tujuan dunia ataupun harta.” (Silsilah Ash-Shahihah, 5: 281)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “Menghafal Al-Qur’an adalah mustahab (sunnah).” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no. 89906).

Namun yang rajih (lebih kuat) insya Allah, menghafal Al-Qur’an adalah fardhu kifayah, wajib di antara kaum Muslimin ada yang menghafalkan Al-Qur’an. Jika tidak ada sama sekali, maka mereka berdosa. (Lihat Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 17: 325)

Semakin banyak hafalan seseorang, akan semakin tinggi pula kedudukan yang didapatkan di surga kelak. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

يُقالُ لصاحبِ القرآنِ اقرأْ وارتقِ ورتِّلْ كما كنت تُرتِّلُ في الدنيا فإنَّ منزلَك عند آخرِ آيةٍ تقرؤُها

“Akan dikatakan kepada shahibul qur’an (di akhirat), bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana Engkau membaca dengan tartil di dunia. Karena kedudukanmu tergantung pada ayat terakhir yang Engkau baca.” (HR. Abu Daud no. 2240, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Abi Daud)

Baca Juga: Keutamaan Belajar Bahasa Arab dan Ilmu Nahwu

Menghafalkan Al-Qur’an hendaknya dimulai dari yang paling mudah dulu. Urutannya sebagai berikut:

  1. Hafalkan juz 30, lalu
  2. Hafalkan juz 29, lalu
  3. Hafalkan juz 28, lalu
  4. Hafalkan juz 1 – 27.

Dan hendaknya dalam menghafalkan Al-Qur’an, juga dibimbing oleh seorang guru yang bisa mengoreksi bacaan dan hafalannya. Guru tersebut juga bisa memutuskan, apakah dia melanjutkan hafalan yang baru ataukah mengulang hafalan yang lama. Disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Mishri,

“Salah satu adab penuntut ilmu adalah memberi perhatian untuk mengoreksi pelajaran yang sudah dia hafal sebelumnya secara mutqin (sempurna) di depan syaikh (guru). Atau di depan orang lain yang bisa membantunya. Kemudian dengan cara demikian, dia bisa memiliki hafalan yang mutqin. Kemudian setelah itu dia ulang-ulang hafalannya dengan baik. Kemudian dia menjadwalkan waktu-waktu untuk mengulang hafalan yang telah berlalu. Sehingga menjadi hafalan yang kokoh dan kuat.” (Al-Mu’lim bi Adabil Mu’allim wal Muta’allim, hal. 83)

Menghafalkan hadis-hadis Nabi

Selain menghafalkan Al-Qur’an, seorang penuntut ilmu juga hendaknya bersemangat untuk menghafalkan hadis-hadis Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Karena hadis adalah sumber hukum kedua dalam Islam, setelah Al-Qur’an.

Menghafalkan hadis-hadis juga memiliki keutamaan yang besar. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

نضَّرَ اللَّهُ امرأً سمِعَ مَقالتي فبلَّغَها فربَّ حاملِ فقهٍ غيرِ فقيهٍ وربَّ حاملِ فقهٍ إلى من هوَ أفقَهُ مِنهُ

“Allah akan memberikan nudhrah (cerahnya wajah) kepada seseorang (di dunia dan di akhirat) yang mendengarkan sabda-sabdaku, lalu menyampaikannya (kepada orang lain). Karena betapa banyak orang yang membawa ilmu, namun sebenarnya tidak memahaminya. Dan betapa banyak orang disampaikan ilmu itu lebih memahami dari pada yang membawakan ilmu kepadanya.” (HR. Ibnu Majah no. 2498, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah)

Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi rahimahullah menjelaskan, “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memotivasi umat untuk menghafalkan hadis. Bahkan beliau menegaskan kepada kita untuk menghafalnya dengan mutqin, sehingga kita tidak menyampaikan hadis secara makna. Beliau bersabda dalam riwayat lain,

فحفظها فأداها كما سمعها

“ … Sehingga dia bisa menyampaikannya sebagaimana dia mendengarnya.”

Kemudian perkataan [Allah akan memberikan nudhrah], maksudnya adalah nadharah, yaitu: bagusnya wajah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah mereka pada hari itu dalam keadaan nadhirah (cerah), memandang kepada Rabb mereka.” (QS. Al- Qiyamah: 22-23)

Karena ketika para hamba memandang kepada wajah Allah Ta’ala, maka wajah mereka pun bertambah indah dan bagus. Nadharah yang disebutkan dalam hadis di atas diperselisihkan oleh para ulama maknanya dalam dua pendapat, yaitu:

Pertama, mereka akan dikumpulkan di hari Kiamat dalam keadaan wajah mereka memancarkan cahaya, seperti matahari. Dikarenakan dia menghafalkan as-sunnah (hadis). Semakin banyak hadis yang dia hafalkan, semakin Allah tambahkan cahaya di wajahnya dan Allah akan menerangi dia dengan cahaya sunnah. Oleh karena itu, ahlus sunnah di wajah mereka ada cahaya.

Kedua, sebagian ulama mengatakan, pada wajah orang-orang ahlus sunnah terdapat cahaya yang ini terjadi di dunia. Karena Allah Ta’ala menjadikan cahaya dan kecerahan pada wajah mereka. Maka wajah mereka adalah wajah-wajah kebaikan. Jika Engkau melihat wajah salah seorang dari ahlus sunnah, maka hati Anda akan tenang. Anda akan mengetahui bahwasanya itu adalah wajah orang yang baik dan saleh. Karena ubun-ubun dan wajah itu mengikuti amal perbuatan. Allah Ta’ala berfirman,

نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ

“Ubun-ubun (orang) yang pendusta dan berbuat dosa.” (QS. Al-‘Alaq: 16) (Syarh Zaadil Mustqani’, 30: 368)

Menghafalkan hadis-hadis Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam juga dimulai dari yang mudah-mudah dan yang ringkas terlebih dahulu. Yang paling disarankan adalah sebagai berikut,

  1. Hafalkan hadis-hadis dalam kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah, karya Imam An-Nawawi rahimahullah, lalu
  2. Hafalkan hadis-hadis dalam kitab ‘Umdatul Ahkam, karya Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah, lalu
  3. Hafalkan hadis-hadis dalam kitab Bulughul Maram, karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, lalu
  4. Hafalkan hadis-hadis dalam kitab Al-Adabul Mufrad, karya Imam Al-Bukhari.

Setelah itu baru bisa menghafalkan Kutubus Sittah dan kitab-kitab hadis yang lebih tebal lagi. Dan ini pun hendaknya dibimbing oleh seorang guru yang bisa mengoreksi atau membetulkan bacaan dan hafalannya. Guru tersebut juga bisa memutuskan apakah dia melanjutkan hafalan yang baru ataukah mengulang hafalan yang lama.

Demikian penjelasan yang ringkas ini. Semoga menjadi motivasi bagi kita semua. Wallahu waliyut taufiq was sadaad.

Baca Juga:

Penulis: Yulian Purnama

Artikel: Muslim.or.id



© 2022 muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/61918-hafalkanlah-al-quran-dan-hadits.html 

Akhlaq

Macam-macam akhlak dalam islam penting untuk kita ketahui. Akhlak adalah tingkah laku yang dilakukan berulang kali. Akhlak dalam bahasa Arab berasal dari kata khuluk yang berarti tingkah laku, perangai, atau tabiat.

Secara terminologi, akhlak adalah tingkah laku seseorang yang didorong oleh sesuatu keinginan secara mendasar untuk melakukan suatu perbuatan. Sementara itu, menurut Imam Al Ghazali, akhlak merupakan tingkah laku yang melekat pada diri seseorang yang dapat memicu perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.

Akhlak merupakan sebuah sistem yang mengatur tindakan dan pola sikap manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam ajaran agama islam, sistem nilai tersebut merupakan sumber ijtihad sebagai salah satu metode berpikir secara islami. Akhlak memicu terjadinya tindakan dan hubungan antara Allah, sesama manusia dan alam semesta.

Menurut Imam Al-Ghazali, akhlak merupakan salah satu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat menimbulkan suatu perbuatan yang mudah dilakukan tanpa adanya pertimbangan pemikiran lagi. Sementara itu, Muslim Nurdin mengatakan bahwa akhlak adalah sebuah sistem nilai yang mengatur tindakan manusia yang ada di muka bumi.

Adapun pengertian akhlak menurut Muslim Nurdin dibagi menjadi dua sudut pandang, yaitu Suluq Azzahriah dan Bataniah. Suluq azzhariah merupakan suatu cara pandang yang memperlihatkan hal-hal yang tampak di dalam diri seperti tutur kata, tingkah laku dan watak. Sementara itu menurut sudut pandang Bataniah, akhlak adalah ilmu yang membahas berbagai masalah yang dihadapi manusia terkait dengan hal-hal yang bersifat Kejiwaan.

Menurut Islam, macam-macam akhlak ada dua yaitu akhlakul mahmudah (akhlak terpuji) dan akhlakul mazmumah (akhlak tercela). Adapun defenisinya sebagai berikut:

1. Akhlakul Mahmudah

Akhlakul mahmudah atau disebut dengan akhlak yang terpuji merupakan salah satu golongan macam-macam akhlak yang harus dimiliki setiap umat muslim. Adapun contoh macam-macam akhlak tersebut diantarannya sikap rela berkorban, jujur, sopan, santun, tawakal, adil, sabar dan lain sebagainya. Sebagai umat muslim sudah seharusnya kita selalu menjaga akhlakuk karimah dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

2. Akhlakul Mazmumah

Akhlakul mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam-macam akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.

Setiap muslim dianjurkan untuk memiliki akhlakul mahmudah atau akhlak yang terpuji. Bagi seseorang yang memiliki sikap tersebut maka dapat mendatangkan manfaat bagi kehidupan sehari-hari maupun di akhirat nanti.

Berikut ini beberapa manfaat macam akhlak terpuji:

1. Dicintai Nabi Muhammad SAW

Keutamaan memiliki akhlakul karimah yang pertama ialah dicintai Rasulullah SAW. Disebutkan dalam sebuah hadis, seorang muslim yang memiliki sifat terpuji maka menjadi orang yang dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana dalam hadits berikut ini, Rasulullah saw bersabda:

“Orang yang paling saya cintai dan paling dekat dengan tempat saya kelak di hari kiamat adalah mereka yang memiliki akhlak mulia. Sementara orang yang paling saya benci dan tempatnya paling jauh dari saya kelak di hari kiamat adalah mereka yang keras dan rakus, suka menghina dan sombong.” (HR. Tirmizi).

2. Berat Timbangannya di Hari Kiamat

Seorang muslim yang memiliki sikap akhlakul karimah di hari akhir kelak akan diselamatkan oleh Allah SWT. Selain itu, setiap muslim yang memiliki akhlakul karimah juga dapat mencapai derajat seperti seseorang yang berpuasa dan salat. Hal ini sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam timbangan lebih berat dari akhlak yang mulia. Sesungguhnya orang yang berakhlaq mulia bisa menggapai derajat orang yang rajin puasa dan rajin shalat.” (HR. Tirmidzi).

3. Mendapat Jaminan Surga

Seseorang yang berakhlakul karimah mendapatkan jaminan dari Rasulullah akan mendapatkan sebuah rumah di surga. Dari Abu Umamah ra; Rasulullah SAW bersabda:

"Saya menjamin sebuah rumah tepi surga bagi orang meninggalkan debat sekalipun ia benar, dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang tidak berbohong sekalipun hanya bergurau, dan rumah di atas surga bagi orang yang mulia akhlaknya." (HR Abu Daud)

4. Mendapat Kedudukan Tinggi di Akhirat

Di akhirat kelak, seorang muslim yang pada masa hidupnya berakhlakul karimah akan mendapatkan kedudukan yang tinggi karena akhlak dan budi pekerti yang ia miliki. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

"Tidak ada kemelaratan yang lebih parah dari kebodohan dan tidak ada harta (kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal. Tidak ada kesendirian yang lebih terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada tolong-menolong yang lebih kokoh dari musyawarah. Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara’ yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar." (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)

Sumber : https://hot.liputan6.com/read/4720126/macam-macam-akhlak-dalam-islam-beserta-pengertian-dan-manfaatnya