Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat sore,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Pemberdayaan Perempuan,
Saudara Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, dan
Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya muliakan para Duta Besar,
Para Pimpinan Lembaga Pemerintah Non-Departemen,
Para Pimpinan Organisasi internasional,
Para Pimpinan Lembaga Swadaya Masyarakat,
Para Pejuang dan Sukarelawan untuk penanggulangan HIV/AIDS,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT karena hari ini kita dapat berkumpul untuk memperingati Hari AIDS Sedunia. Peringatan ini kita laksanakan bukan untuk membuat kita merasa senang dan bergembira. Sebaliknya, peringatan ini kita lakukan untuk menggugah keprihatinan bersama akan bahaya serius yang mengancam kehidupan umat manusia, yaitu ancaman bahaya penularan HIV/AIDS. Masalah ini bukan lagi masalah suatu negara, tetapi masalah global yang mulai melanda dunia sejak dekade 1980-an. Walaupun berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini, namun sampai sekarang hasil yang dicapai masih jauh dari apa yang diharapkan.
Sebagaimana telah kita maklumi, AIDS merupakan suatu sindroma atau kumpulan gejala penyakit akibat hilangnya kekebalan tubuh. Akibat hilangnya kekebalan, seseorang tidak akan mampu bertahan terhadap serangan penyakit apa pun juga. Akibatnya, jika seseorang terserang AIDS, maka orang tersebut secara medis tidak dapat disembuhkan lagi, karena hingga kini, secara medis pula, belum ditemukan obat untuk mengatasi virus HIV/AIDS, sehingga masalah ini memang benar-benar masalah serius yang memerlukan penanganan secara global. Masalah HIV/AIDS bukan sekedar masalah kesehatan belaka, tetapi juga masalah sosial yang kompleks, karena berdampak luas dalam kehidupan masyarakat.
Apa yang dituturkan oleh Beka, saudara kita tadi, menunjukkan bahwa HIV/AIDS bukan sekedar masalah medis. Tetapi memiliki kompleksitas permasalahan psikologis, ekonomi, sosial, dan lain-lain aspek dalam kehidupan kita. Pada awalnya penularan virus HIV/AIDS terjadi dalam hubungan seksual yang menyimpang, yaitu homoseksualitas. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini fenomena penyebarannya menjadi meluas, yaitu akibat perilaku hubungan seksual yang bebas. Selain itu, penyalahgunaan obat-obat terlarang, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, serta transfusi darah yang tidak terseleksi dengan baik, turut pula memberikan andil dalam penyebaran virus ini.
Jika memang demikian keadaannya, tentu saja mustahil untuk menangani problema HIV/AIDS semata-mata sebagai masalah kedokteran atau masalah kesehatan. Masalahnya juga berkaitan dengan hal-hal lain seperti pendidikan, kepatuhan kepada nilai-nilai keagamaan, penegakan hukum dalam mengatasi praktik-praktik prostitusi, dan pemberantasan kejahatan narkotika dan obat berbahaya lainnya.
Melalui kesempatan ini, saya mengajak semua pihak yang berkompeten untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman bahaya yang serius ini. Penyebaran pemahaman tentang seluk-beluk HIV/AIDS harus dilakukan secara merata ke segenap lapisan masyarakat. Bahaya ini akan mengancam siapa saja tanpa terkait dengan status sosial seseorang, orang kaya, orang miskin, orang terpelajar dan orang awam setiap saat dapat saja terserang bahaya penularannya. Karena itu, kampanye pencegahan dan penanggulangannya harus dilakukan secara terus-menerus, dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Penerangan yang terlampau teknis dan akademis dari sudut pandangan medis, tentu saja tidak akan dipahami oleh masyarakat luas. Akibatnya, hasil yang ingin dicapai tidak mengenai sasaran yang diharapkan.
Hadirin yang saya muliakan,
Ancaman bahaya penyebaran HIV/AIDS di negeri kita, kini telah mencapai taraf yang memprihatinkan. Untuk pertama kalinya kita menemukan warga masyarakat yang terserang virus ini pada tahun 2000 yang lalu. Kini jumlahnya terus meningkat. Bahkan di daerah-daerah tertentu, perkembangan itu telah sampai ke tingkat yang memerlukan penanganan secara serius. Hal itu umumnya terjadi karena hubungan seksual bebas dari seseorang atau sekelompok orang yang mengidap virus HIV/AIDS dan kemudian menularkan kepada pasangannya.
Seringkali yang menjadi korban penularan adalah kaum wanita, disebabkan ketidaktahuan mereka terhadap ancaman bahaya ini. Kita akan sangat prihatin jika gejala ini terus berlanjut. Oleh karena wanita yang mengidap virus ini otomatis akan menularkannya kepada bayi yang dilahirkannya, jika sekiranya wanita itu mengandung. Kita dapat membayangkan, betapa besar ancaman yang dihadapi oleh generasi yang akan datang. Adalah kewajiban kita semua dalam menanggulangi masalah besar ini. Kita berkewajiban untuk melindungi rakyat kita dari segala bentuk ancaman, sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan Undang-undang Dasar kita.
Ancaman serius virus HIV/AIDS terhadap kaum wanita kini menjadi keprihatinan dunia, mengingat posisi yang khusus kaum wanita di tengah masyarakat, seperti saya katakan tadi. Masyarakat kita yang hingga kini masih dihadapkan kepada problema hubungan gender, sungguh harus memiliki keprihatinan yang besar terhadap masalah ini. Lemahnya posisi kaum wanita dalam melindungi dirinya, baik dari segi kejiwaan, sosial maupun ekonomi, menjadi faktor yang turut mempengaruhi mengapa mereka lebih banyak yang menjadi korban.
Keprihatinan kita akan semakin bertambah bilamana kita menyadari, bahwa korban yang terbanyak di kalangan kaum wanita itu adalah remaja putri. Sebab itulah, saya sepenuhnya dapat memahami, tema peringatan Hari HIV/AIDS sedunia kali ini --sebagaimana telah ditetapkan oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menanggulangi masalah ini--adalah “Perempuan, Remaja Putri, dan HIV/AIDS”.
Hadirin yang saya muliakan,
Suatu hal yang juga turut memprihatinkan kita bersama ialah fenomena penyebaran HIV/AIDS di negara-negara berkembang kini sebagian besar melanda generasi muda yang berusia antara 15 sampai 24 tahun. Karena itu, saya mengajak para orang tua, pendidik, tokoh-tokoh agama, dan tokoh-tokoh masyarakat untuk secara bersama-sama menyadarkan generasi muda dan kaum remaja dari ancaman bahaya yang serius ini. Mencegah penularan HIV/AIDS adalah jauh lebih baik daripada menanggulangi masalahnya setelah semuanya terjadi. Seperti telah saya katakan tadi, akan sia-sia kita menanggulangi korban penyebaran virus ini dari segi kedokteran, karena hingga sekarang belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya.
Saya berkeyakinan, nilai-nilai keagamaan yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat kita, serta adat-istiadat masyarakat kita yang agung, akan sangat bermakna dalam menanggulangi penyebaran virus yang sangat berbahaya ini. Ajaran agama dan adat istiadat yang hidup dalam masyarakat, sangat menghormati lembaga perkawinan. Hubungan seksual di luar nikah, apalagi hubungan seks bebas dan berganti-ganti pasangan adalah perbuatan yang dilarang oleh agama. Agama apapun melarang penggunaan narkotika dan obat-obat berbahaya lainnya. Karena itu, saya mengajak marilah kita pertahankan nilai-nilai keagamaan dan adat-istiadat yang luhur dan agung itu, demi kebaikan dan kepentingan kita bersama.
Di tengah-tengah keprihatinan bersama ini, Pemerintah akan terus berupaya menanggulangi ancaman bahaya penyebaran HIV/AIDS ini secara maksimal. Saya juga mengajak segenap jajaran Pemerintah, di pusat maupun di daerah, untuk secara bersama-sama melakukan penanggulangan. Kegiatan yang paling utama yang harus dilakukan adalah memberikan penyuluhan dengan menggunakan sarana dan prasarana yang tersedia. Komitmen Pemerintah untuk menanggulangi peredaran narkotika dan obat-obat berbahaya lainnya, yang juga menjadi salah satu faktor penyebab penularan HIV/AIDS akan terus ditingkatkan. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk menunaikan segala kewajiban kita.
Sebelum saya akhiri sambutan ini, ijinkan saya menyampaikan beberapa penggarisan, penekanan dan direction saya, khususnya kepada jajaran pemerintah. Kepada Saudari Menteri Kesehatan, saya minta agar mulai saat ini secara berkala para gubernur melaporkan tentang upaya-upaya yang dilakukan untuk melakukan penanggulangan terhadap HIV/AIDS dan juga penanggulangan terhadap penyalahgunaan obat-obat terlarang dan narkotika. Harapan saya, bupati-walikota melaporkan kepada gubernur. Tiap bulan gubernur melaporkan kepada Menteri Kesehatan dan menteri terkait. Dan tiap tiga bulan, saya minta Menteri Kesehatan melaporkan kepada saya.
Dengan demikian, saya akan mengetahui tanggung jawab kepemimpinan di seluruh tanah air terhadap bahaya yang sangat serius ini serta upaya dan langkah-langkah apa yang dilakukan oleh para pejabat di jajaran pemerintahan. Di samping penanggulangan HIV/AIDS dan narkotika yang menjadi tanggung jawab global, saya juga ingin Pemerintah sekarang ini dan di sini sebagai vocal point atau penjuru adalah Menteri Kesehatan untuk juga melakukan langkah yang sangat serius untuk pemberantasan penyakit-penyakit tropis yang masih berjalan, berjangkit di negeri kita, utamanya adalah TBC, Demam Berdarah, dan Malaria.
Saya minta juga, para gubernur di seluruh tanah air secara berkala melaporkan upaya Pemerintah-nya untuk memberantas tiga penyakit menular itu. Sekali lagi TBC, Demam Berdarah, dan Malaria. Dan pada saatnya, Menko Kesra bisa mengkoordinasikan, melaporkan kepada saya, langkah-langkah serius yang dilakukan oleh para pemimpin dan para pejabat di tanah air kita.
Keluarga Berencana, di sini ada Pimpinan BKKBN, bersama-sama dengan Menteri Kesehatan, tolong kita hidupkan kembali, kita jalankan semua upaya yang sungguh-sungguh. Sebab, keluarga adalah benteng dari generasi muda kita, generasi bangsa yang makin ke depan harus makin kompetitif, makin unggul, dan makin berdaya saing. Saya dukung semua upaya yang serius dari jajaran Kesehatan, dari BKKBN, dari BNN untuk menjalankan tugasnya demi langkah bersama kita menanggulangi ancaman serius ini, menyelamatkan masa depan bangsa kita, menyelamatkan generasi muda kita.
Dalam kesempatan yang baik ini, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada pimpinan organisasi internasional dan badan-badan yang mengemban tugas yang sama.
On behalf of the Indonesian Government and the Indonesian people, I would like to express my sincere thank and deep appreciation to all international organizations under the United Nations and other organizations that contribute to the Indonesian effort in fighting our biggest threat that is the threat of HIV/AIDS. I think we agree that there must be a global commitment, global solution, and global action in the fight against the threat of HIV/AIDS and other diseases, to include tropical diseases. During the APEC Meeting that I attended in Santiago two weeks ago and also during the ASEAN Summit that I also joined in Laos three days ago, we discussed in depth how to fight against a new threat to humanity. We are talking about human security, we are discussing about how to fight tropical diseases such as SARS, Avian Flu, and other diseases.
So the time has come, Ladies and Gentlemen, for international organizations, we have to unite, we have to develop our commitment, our action, and act collectively to fight against this new threat of this new decade of this new era, the threat our mankind. So once again, I ask you to work together, to synchronize our efforts in the fight against this global threat. I do believe very strongly in this is very challenging mission, in this very challenging task. If we are united and move and act together, we will achieve undoubtedly that we pursue together.
Demikianlah sambutan saya hadirin sekalian.
Semoga harapan-harapan saya itu akan menjadi perhatian segenap lapisan masyarakat di seluruh tanah air. Betapapun kita menyadari masalah yang kita hadapi ini sangat berat, namun kita akan mempunyai..., namun kita tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menghadapinya dengan kesungguhan hati, kesabaran, dan kerja keras.
Saya sampaikan penghargaan dan ucapan saya kepada para pejuang, para sukarelawan yang tidak mengenal lelah berjuang siang dan malam di seluruh tanah air, membantu pemerintah, bersama-sama dengan pemerintah memerangi ancaman kita, penyebaran HIV/AIDS yang memang harus kita berantas secara sungguh-sungguh. Dengan cara itu, kita bermohon semoga Allah SWT akan senantiasa mengiringi langkah-langkah kita bersama dalam berjuang mengatasi berbagai masalah pelik yang dihadapi masyarakat, bangsa, dan negara.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat sore,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Pemberdayaan Perempuan,
Saudara Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, dan
Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya muliakan para Duta Besar,
Para Pimpinan Lembaga Pemerintah Non-Departemen,
Para Pimpinan Organisasi internasional,
Para Pimpinan Lembaga Swadaya Masyarakat,
Para Pejuang dan Sukarelawan untuk penanggulangan HIV/AIDS,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT karena hari ini kita dapat berkumpul untuk memperingati Hari AIDS Sedunia. Peringatan ini kita laksanakan bukan untuk membuat kita merasa senang dan bergembira. Sebaliknya, peringatan ini kita lakukan untuk menggugah keprihatinan bersama akan bahaya serius yang mengancam kehidupan umat manusia, yaitu ancaman bahaya penularan HIV/AIDS. Masalah ini bukan lagi masalah suatu negara, tetapi masalah global yang mulai melanda dunia sejak dekade 1980-an. Walaupun berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini, namun sampai sekarang hasil yang dicapai masih jauh dari apa yang diharapkan.
Sebagaimana telah kita maklumi, AIDS merupakan suatu sindroma atau kumpulan gejala penyakit akibat hilangnya kekebalan tubuh. Akibat hilangnya kekebalan, seseorang tidak akan mampu bertahan terhadap serangan penyakit apa pun juga. Akibatnya, jika seseorang terserang AIDS, maka orang tersebut secara medis tidak dapat disembuhkan lagi, karena hingga kini, secara medis pula, belum ditemukan obat untuk mengatasi virus HIV/AIDS, sehingga masalah ini memang benar-benar masalah serius yang memerlukan penanganan secara global. Masalah HIV/AIDS bukan sekedar masalah kesehatan belaka, tetapi juga masalah sosial yang kompleks, karena berdampak luas dalam kehidupan masyarakat.
Apa yang dituturkan oleh Beka, saudara kita tadi, menunjukkan bahwa HIV/AIDS bukan sekedar masalah medis. Tetapi memiliki kompleksitas permasalahan psikologis, ekonomi, sosial, dan lain-lain aspek dalam kehidupan kita. Pada awalnya penularan virus HIV/AIDS terjadi dalam hubungan seksual yang menyimpang, yaitu homoseksualitas. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini fenomena penyebarannya menjadi meluas, yaitu akibat perilaku hubungan seksual yang bebas. Selain itu, penyalahgunaan obat-obat terlarang, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, serta transfusi darah yang tidak terseleksi dengan baik, turut pula memberikan andil dalam penyebaran virus ini.
Jika memang demikian keadaannya, tentu saja mustahil untuk menangani problema HIV/AIDS semata-mata sebagai masalah kedokteran atau masalah kesehatan. Masalahnya juga berkaitan dengan hal-hal lain seperti pendidikan, kepatuhan kepada nilai-nilai keagamaan, penegakan hukum dalam mengatasi praktik-praktik prostitusi, dan pemberantasan kejahatan narkotika dan obat berbahaya lainnya.
Melalui kesempatan ini, saya mengajak semua pihak yang berkompeten untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman bahaya yang serius ini. Penyebaran pemahaman tentang seluk-beluk HIV/AIDS harus dilakukan secara merata ke segenap lapisan masyarakat. Bahaya ini akan mengancam siapa saja tanpa terkait dengan status sosial seseorang, orang kaya, orang miskin, orang terpelajar dan orang awam setiap saat dapat saja terserang bahaya penularannya. Karena itu, kampanye pencegahan dan penanggulangannya harus dilakukan secara terus-menerus, dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Penerangan yang terlampau teknis dan akademis dari sudut pandangan medis, tentu saja tidak akan dipahami oleh masyarakat luas. Akibatnya, hasil yang ingin dicapai tidak mengenai sasaran yang diharapkan.
Hadirin yang saya muliakan,
Ancaman bahaya penyebaran HIV/AIDS di negeri kita, kini telah mencapai taraf yang memprihatinkan. Untuk pertama kalinya kita menemukan warga masyarakat yang terserang virus ini pada tahun 2000 yang lalu. Kini jumlahnya terus meningkat. Bahkan di daerah-daerah tertentu, perkembangan itu telah sampai ke tingkat yang memerlukan penanganan secara serius. Hal itu umumnya terjadi karena hubungan seksual bebas dari seseorang atau sekelompok orang yang mengidap virus HIV/AIDS dan kemudian menularkan kepada pasangannya.
Seringkali yang menjadi korban penularan adalah kaum wanita, disebabkan ketidaktahuan mereka terhadap ancaman bahaya ini. Kita akan sangat prihatin jika gejala ini terus berlanjut. Oleh karena wanita yang mengidap virus ini otomatis akan menularkannya kepada bayi yang dilahirkannya, jika sekiranya wanita itu mengandung. Kita dapat membayangkan, betapa besar ancaman yang dihadapi oleh generasi yang akan datang. Adalah kewajiban kita semua dalam menanggulangi masalah besar ini. Kita berkewajiban untuk melindungi rakyat kita dari segala bentuk ancaman, sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan Undang-undang Dasar kita.
Ancaman serius virus HIV/AIDS terhadap kaum wanita kini menjadi keprihatinan dunia, mengingat posisi yang khusus kaum wanita di tengah masyarakat, seperti saya katakan tadi. Masyarakat kita yang hingga kini masih dihadapkan kepada problema hubungan gender, sungguh harus memiliki keprihatinan yang besar terhadap masalah ini. Lemahnya posisi kaum wanita dalam melindungi dirinya, baik dari segi kejiwaan, sosial maupun ekonomi, menjadi faktor yang turut mempengaruhi mengapa mereka lebih banyak yang menjadi korban.
Keprihatinan kita akan semakin bertambah bilamana kita menyadari, bahwa korban yang terbanyak di kalangan kaum wanita itu adalah remaja putri. Sebab itulah, saya sepenuhnya dapat memahami, tema peringatan Hari HIV/AIDS sedunia kali ini --sebagaimana telah ditetapkan oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menanggulangi masalah ini--adalah “Perempuan, Remaja Putri, dan HIV/AIDS”.
Hadirin yang saya muliakan,
Suatu hal yang juga turut memprihatinkan kita bersama ialah fenomena penyebaran HIV/AIDS di negara-negara berkembang kini sebagian besar melanda generasi muda yang berusia antara 15 sampai 24 tahun. Karena itu, saya mengajak para orang tua, pendidik, tokoh-tokoh agama, dan tokoh-tokoh masyarakat untuk secara bersama-sama menyadarkan generasi muda dan kaum remaja dari ancaman bahaya yang serius ini. Mencegah penularan HIV/AIDS adalah jauh lebih baik daripada menanggulangi masalahnya setelah semuanya terjadi. Seperti telah saya katakan tadi, akan sia-sia kita menanggulangi korban penyebaran virus ini dari segi kedokteran, karena hingga sekarang belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya.
Saya berkeyakinan, nilai-nilai keagamaan yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat kita, serta adat-istiadat masyarakat kita yang agung, akan sangat bermakna dalam menanggulangi penyebaran virus yang sangat berbahaya ini. Ajaran agama dan adat istiadat yang hidup dalam masyarakat, sangat menghormati lembaga perkawinan. Hubungan seksual di luar nikah, apalagi hubungan seks bebas dan berganti-ganti pasangan adalah perbuatan yang dilarang oleh agama. Agama apapun melarang penggunaan narkotika dan obat-obat berbahaya lainnya. Karena itu, saya mengajak marilah kita pertahankan nilai-nilai keagamaan dan adat-istiadat yang luhur dan agung itu, demi kebaikan dan kepentingan kita bersama.
Di tengah-tengah keprihatinan bersama ini, Pemerintah akan terus berupaya menanggulangi ancaman bahaya penyebaran HIV/AIDS ini secara maksimal. Saya juga mengajak segenap jajaran Pemerintah, di pusat maupun di daerah, untuk secara bersama-sama melakukan penanggulangan. Kegiatan yang paling utama yang harus dilakukan adalah memberikan penyuluhan dengan menggunakan sarana dan prasarana yang tersedia. Komitmen Pemerintah untuk menanggulangi peredaran narkotika dan obat-obat berbahaya lainnya, yang juga menjadi salah satu faktor penyebab penularan HIV/AIDS akan terus ditingkatkan. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk menunaikan segala kewajiban kita.
Sebelum saya akhiri sambutan ini, ijinkan saya menyampaikan beberapa penggarisan, penekanan dan direction saya, khususnya kepada jajaran pemerintah. Kepada Saudari Menteri Kesehatan, saya minta agar mulai saat ini secara berkala para gubernur melaporkan tentang upaya-upaya yang dilakukan untuk melakukan penanggulangan terhadap HIV/AIDS dan juga penanggulangan terhadap penyalahgunaan obat-obat terlarang dan narkotika. Harapan saya, bupati-walikota melaporkan kepada gubernur. Tiap bulan gubernur melaporkan kepada Menteri Kesehatan dan menteri terkait. Dan tiap tiga bulan, saya minta Menteri Kesehatan melaporkan kepada saya.
Dengan demikian, saya akan mengetahui tanggung jawab kepemimpinan di seluruh tanah air terhadap bahaya yang sangat serius ini serta upaya dan langkah-langkah apa yang dilakukan oleh para pejabat di jajaran pemerintahan. Di samping penanggulangan HIV/AIDS dan narkotika yang menjadi tanggung jawab global, saya juga ingin Pemerintah sekarang ini dan di sini sebagai vocal point atau penjuru adalah Menteri Kesehatan untuk juga melakukan langkah yang sangat serius untuk pemberantasan penyakit-penyakit tropis yang masih berjalan, berjangkit di negeri kita, utamanya adalah TBC, Demam Berdarah, dan Malaria.
Saya minta juga, para gubernur di seluruh tanah air secara berkala melaporkan upaya Pemerintah-nya untuk memberantas tiga penyakit menular itu. Sekali lagi TBC, Demam Berdarah, dan Malaria. Dan pada saatnya, Menko Kesra bisa mengkoordinasikan, melaporkan kepada saya, langkah-langkah serius yang dilakukan oleh para pemimpin dan para pejabat di tanah air kita.
Keluarga Berencana, di sini ada Pimpinan BKKBN, bersama-sama dengan Menteri Kesehatan, tolong kita hidupkan kembali, kita jalankan semua upaya yang sungguh-sungguh. Sebab, keluarga adalah benteng dari generasi muda kita, generasi bangsa yang makin ke depan harus makin kompetitif, makin unggul, dan makin berdaya saing. Saya dukung semua upaya yang serius dari jajaran Kesehatan, dari BKKBN, dari BNN untuk menjalankan tugasnya demi langkah bersama kita menanggulangi ancaman serius ini, menyelamatkan masa depan bangsa kita, menyelamatkan generasi muda kita.
Dalam kesempatan yang baik ini, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada pimpinan organisasi internasional dan badan-badan yang mengemban tugas yang sama.
On behalf of the Indonesian Government and the Indonesian people, I would like to express my sincere thank and deep appreciation to all international organizations under the United Nations and other organizations that contribute to the Indonesian effort in fighting our biggest threat that is the threat of HIV/AIDS. I think we agree that there must be a global commitment, global solution, and global action in the fight against the threat of HIV/AIDS and other diseases, to include tropical diseases. During the APEC Meeting that I attended in Santiago two weeks ago and also during the ASEAN Summit that I also joined in Laos three days ago, we discussed in depth how to fight against a new threat to humanity. We are talking about human security, we are discussing about how to fight tropical diseases such as SARS, Avian Flu, and other diseases.
So the time has come, Ladies and Gentlemen, for international organizations, we have to unite, we have to develop our commitment, our action, and act collectively to fight against this new threat of this new decade of this new era, the threat our mankind. So once again, I ask you to work together, to synchronize our efforts in the fight against this global threat. I do believe very strongly in this is very challenging mission, in this very challenging task. If we are united and move and act together, we will achieve undoubtedly that we pursue together.
Demikianlah sambutan saya hadirin sekalian.
Semoga harapan-harapan saya itu akan menjadi perhatian segenap lapisan masyarakat di seluruh tanah air. Betapapun kita menyadari masalah yang kita hadapi ini sangat berat, namun kita akan mempunyai..., namun kita tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menghadapinya dengan kesungguhan hati, kesabaran, dan kerja keras.
Saya sampaikan penghargaan dan ucapan saya kepada para pejuang, para sukarelawan yang tidak mengenal lelah berjuang siang dan malam di seluruh tanah air, membantu pemerintah, bersama-sama dengan pemerintah memerangi ancaman kita, penyebaran HIV/AIDS yang memang harus kita berantas secara sungguh-sungguh. Dengan cara itu, kita bermohon semoga Allah SWT akan senantiasa mengiringi langkah-langkah kita bersama dalam berjuang mengatasi berbagai masalah pelik yang dihadapi masyarakat, bangsa, dan negara.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sumber : http://www.presidenri.go.id/index.php/pidato/2004/12/03/63.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar